BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Yerusalem, dengan sejarahnya yang penuh konflik, adalah tempat suci dari tiga agama monoteisme yang berakar pada tradisi Ibrahim: Yahudi, Kristen, dan Islam. Orang Yahudi menyebut Yerusalem dengan Yerusblayim, artinya kota perdamaian; sementara orang Arab menyebutnya Al-Quds, artinya Kudus (suci). Lazimnya, suasana kekudusan selalu identik dengan suasana kedamaian, namun Yerusalem mengajarkan lain. Kekhusyukan, ketaatan, dan kesalehan masing-masing penganut agama di kota yang berumur lebih 2000 tahun tampaknya tidak menetes ke dalam interaksi keseharian mereka. Yang tampak justru adalah kebekuan yang memendam bibit-bibit permusuhan. Hubungan antara orang Arab Palestina dengan orang Yahudi sebenarnya tidak sesederhana seperti yang terlihat dalam konflik fisik saja, namun karena berada di bawah yurisdiksi yang sama, akhirnya mereka terpaksa berhubungan karena kepentingan ekonom, misalnya. Karena kepentingan ekonomi inilah maka hubungan-hubungan sosial dalam bentuk lain berkembang. Sebagai contoh: berbagai perusahaan orang Yahudi mempekerjakan orang Arab Palestina dan sejumlah barang produk Arab Palestina dipasarkan oleh orang Yahudi. Jadi, sebenarnya banyak di antara orang Arab Palestina dan orang Yahudi dalam interaksi keseharian mereka saling memandang satu sama lain dengan sudut pandang yang berbeda dari sekadar konflik belaka, sebagaimana opini yang selalu diekspose media massa. Tulisan-tulisan dalam buku ini-meski ditulis oleh seorang jurnalis-menawarkan sudut pandang yang berbeda. Alih-alih melaporkan perang, buku ini justru melukiskan sisi-sisi kehidupan sehari-hari antara dua bangsa yang "terpaksa" hidup bersama meski memiliki perbedaan yang nyaris tak terjembatani.
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Indonesia memiliki yang disebut “kerawanan kritis” (critical vulnerability) yang sewaktu-waktu dapat menimbulkan konflik antara lain karena, bangsa Indonesia tidak terlahir sebagai suatu bangsa yang sudah ada. Indonesia dibentuk berdasarkan keinginan dari berbagai suku bangsa, agama, RAS dan antar golongan untuk bersatu yang setelah merdeka dikonstitusikan dalam Pembukaan Undang-Undang Negara Republik Indonesia 1945. Meskipun demikian, konsensus tersebut masih meninggalkan residu permasalahan yaitu masih adanya keinginan sebagian anak bangsa untuk mengganti ideologi Pancasila dengan ideologi lain (komunis, kapitalis, khilafah). Ada pula yang ingin membentuk federasi dan beberapa wilayah ingin memisahkan diri. Selain itu, belum adanya pengaturan hubungan pusat dan daerah yang setepat-tepatnya akan berakibat sering terjadi konflik kepentingan antara daerah dengan pusat, sebab masih ada kelompok anak bangsa merasa mayoritas yang paling berjasa mewujudkan kemerdekaan daripada yang minoritas. Perlu diingat bahwa pusat kekuatan strategi bangsa Indonesia terletak di dalam nilai-nilai Pancasila sebagai ideologi bangsa dan negara kesatuan Repbulik Indonesia
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Alih-alih berupaya untuk menjelaskan apa yang dilakukan kaum Islamis terhadap perubahan sosial di sekitarnya, buku ini justru akan lebih fokus menunjukkan apa yang terjadi di dunia Islam, khususnya di Mesir, Pakistan dan Indonesia sehingga melahirkan Islamisme, maksudnya Islam sebagai gerakan politik.Penulis meyakini bahwa setting sosial saat itulahyang justru sangat kuat membentuk reaksi kaum Islamis, maksudnyaMuslim yang mempersepsikan Islam sebagai gerakan politik, sehingga mereka menggunakan Islamisme untuk bisa hidup, bertahan, berkembang dan memilih kawasan urban sebagai episentrum wilayah dakwah mereka. Kajian Islamisme dalam buku ini bermula dari ketertarikan untuk memahami Islam sebagai field of study dari dalam Islam sendiri. Ketertarikan itu berkembang ketika penulis,tepatnya July 2009, menjadi mahasiswa Studi Islam Pascasarjana Program Doktor di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga (UIN Suka) Yogyakarta.Di sana penulis menjadi Santri Kristen sejak Juli 2009 hingga dinyatakan lulus Cumlaude Teori dan Disertasi tertanggal 5 Oktober 2018 dalam ujian disertasi.Berdasarkan sejarah UIN Suka, didirikan 26 September 1951 dengan nama Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) Sunan Kalijagadengan Keputusan Menteri Agama No. 39 Tahun 1993, penulis adalah orang Kristen pertama,yang adalah Pendeta Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI), dan Dosen di Sekolah Tinggi Salatiga (STTS), Jawa Tengah kuliah secara formal, regular dan resmi, bahkan “Doktor Islam Kristen pertama di Indonesia” seperti ucapan Ahmad Rafiq, S.Ag M.Ag., Ph.D, dosen Interdisciplinary Islamic Studies Pascasarjana di sana. Oleh karena ketertarikan itu pulalah maka penulis meneliti Islamisme Indonesia dalam disertasi. Artinya, sebagian data buku ini diambil dari disertasi. Data tersebut khususnya penjelasan tentangPartai Keadilan Sejahtera (PKS) dalam Bab I Landasan Teori disertasi yang kemudian dikembangkan dan diwujudkan dalam buku ini. Dengan selesainya buku ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang membantu. Antara lain Tata Usaha, Karyawan, Dosen, Direktur Pascasarjana, Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, teman sekelas, seluruh sumber data, Promotor 1, Prof. Noorhaidi, MA., M.Phil., Ph.D, dan Promotor 2, Dr Muhammad Wildan.Lalu, dosen Penguji Ujian Makalah Komprehensi, Proposal Penelitian, Ujian Pendahuluan, Ujian Tertutup hingga Ujian Terbuka, yaknibeberapa dosen internal dari UIN Suka seperti Prof. Noorhaidi, MA., M.Phil., Ph.D Direktur Pascasarjana, Dr. Muhammad Wildandari Prodi Sejarah dan Kebudayaan Islam Fakultas Adab dan Ilmu Budaya; Dr. Ahmad Bunyan Wahib, M.Ag., M.Adari Prodi Hukum Keluarga Islam (Ahwal Syakhshiyyah) Fakultas Syari'ah dan Hukum; Ahmad Norma Permata, S.Ag., M.A., Ph.D dari Prodi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora; Ketua Sidang dan juga ikut menguji Prof. Drs. K.H. Yudian Wahyudi, M.A., Ph.D dari Prodi Perbandingan Mazhab Fakultas Syari'ah dan Hukum juga Rektor UIN Suka. Sementara dosen eksternal adalahProf. Irwan Abdullah dari Departemen Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, 2003 hingga 2005 sebagai Direktur Eksekutif pada Center For Religious and Cross-cultural Studies (CRCS) UGM, 2005 hingga 2009 menjabat sebagai Direktur Sekolah Pascasarjana UGM; Prof. Dr. Bambang Cipto, MA dari Program Studi Ilmu Hubungan Internasional, 2013-2016 menjabat Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Penulis juga berterima kasih kepada keluarga Sugeng Magelang, Nuryanto dan Ratna, Rio Tambunan istri saya, tiga anak kami, Maverick El Radith Tambunan, Indie Borulopian Gurzi Tambunan, Poda Triyono Gurzi Tambunan atas doa dan dukungannya, keluarga Gurzi di California, USA yang berkali-kali membeli buku untuk studi dan disertasi, Tambunan dan Gultom di kampung. Tuhan Yesus memberkati.
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Tjokroaminoto sebagai sang guru beserta tiga muridnya yaitu Musso, Soekarno dan Kartosuwiryo yang terkemuka, seakan sudah ditakdirkan Tuhan sebagai para pendekar antikolonial dari zaman bergerak yang kian menanjak. Musso, Soekarno dan Kartosuwiryo memeluk Islam dalam derajat dan varian yang beragam. Musso dan Kartosuwiryo adalah bocah alim yang sejak kecil atau masa kanak-kanak sudah belajar mengaji sebagai santri, sedangkan Soekarno baru belajar mengaji setelah indekos di rumah Tjokro. Pada perkembangannya ketiga murid itu sangat dekat dengan Tjokro.Meskipun demikian bukan berarti anak-anak muda itu sepenuhnya terpengaruh pemikiran Tjokro. Mereka menemukan sendiri pemikirannya dalam perjalanan hidup masing-masing. Masa bersama Tjokro hanyalah satu bagian, bahkan bisa dibilang bagian kecil saja dalam hidup mereka.