Lewati ke konten utama
Beranda / Publikasi / Article
ArticleOpen AccessTerbit 2022Versi 1

PERSPEKTIF MASYARAKAT TERHADAP KEGIATAN MAJELIS SHOLAWAT PADA MASA PANDEMI

Artikel Penelitian dan Pengabdian•1 dilihat · 0 unduhan

Abstrak

<p><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">Pada masa pandemi tidak dilarang oleh pemerintah dan WHO. </span><span style="vertical-align: inherit;">Masyarakat tetap dapat melakukan kegiatan dengan prosedural. </span><span style="vertical-align: inherit;">Namun, pada kegiatan keagamaan tetap mengadakan. </span><span style="vertical-align: inherit;">Meskipun demikian pada komunitas keagamaan mereka menjalankan sesuai dengan anjuran pemerintah. </span><span style="vertical-align: inherit;">Salah satu kegiatan yang tidak luput dari ciri khas orang muslim adalah adanya majelis sholawat. </span><span style="vertical-align: inherit;">Majelis sholawat adalah kegiatan yang dilakukan oleh kelompok orang yang memiliki kecintaan begitu besar kepada Nabi dan Tuhan. </span><span style="vertical-align: inherit;">Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat pandangan masyarakat desa Anggaswangi terutama Remaja Masjid pada kegiatan majelis sholawat pada masa pandemi. </span><span style="vertical-align: inherit;">Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif, </span><span style="vertical-align: inherit;">karena peneliti perlu melakukan pendekatan secara mendalam dengan masyarakat desa Anggaswangi agar mendapatkan data secara langsung dari informan. </span><span style="vertical-align: inherit;">Teori yang digunakan adalah teori perilaku sosial dari Max Weber. </span><span style="vertical-align: inherit;">Teori tersebut menjelaskan menurut Weber, individu manusia dalam masyarakat merupakan aktor yang kreatif dan realitas sosial bukan merupakan alat yang statis dari paksaan fakta sosial. </span><span style="vertical-align: inherit;">Artiya, tindakan manusia tidak ditentukan oleh norma, kebiasaan, nilai, dan sebagainya yang tercakup di dalam konsep fakta sosial. </span><span style="vertical-align: inherit;">Asumsi awal penelitian ini adalah bahwa masyarakat desa Anggaswangi memandang kegiatan keagamaan sebagai wujud kecintaan terhadap Tuhan, namun kegiatan seperti Majeliis Sholawat juga dapat dijadikan kegiatan untuk berdoa kepada Tuhan karena situasi di masa pandemi Covid-19. </span><span style="vertical-align: inherit;">Teori yang digunakan adalah teori perilaku sosial dari Max Weber. </span><span style="vertical-align: inherit;">Teori tersebut menjelaskan menurut Weber, individu manusia dalam masyarakat merupakan aktor yang kreatif dan realitas sosial bukan merupakan alat yang statis dari paksaan fakta sosial. </span><span style="vertical-align: inherit;">Artiya, tindakan manusia tidak ditentukan oleh norma, kebiasaan, nilai, dan sebagainya yang tercakup di dalam konsep fakta sosial. </span><span style="vertical-align: inherit;">Asumsi awal penelitian ini adalah bahwa masyarakat desa Anggaswangi memandang kegiatan keagamaan sebagai wujud kecintaan terhadap Tuhan, namun kegiatan seperti Majeliis Sholawat juga dapat dijadikan kegiatan untuk berdoa kepada Tuhan karena situasi di masa pandemi Covid-19. </span><span style="vertical-align: inherit;">Teori yang digunakan adalah teori perilaku sosial dari Max Weber. </span><span style="vertical-align: inherit;">Teori tersebut menjelaskan menurut Weber, individu manusia dalam masyarakat merupakan aktor yang kreatif dan realitas sosial bukan merupakan alat yang statis dari paksaan fakta sosial. </span><span style="vertical-align: inherit;">Artiya, tindakan manusia tidak ditentukan oleh norma, kebiasaan, nilai, dan sebagainya yang tercakup di dalam konsep fakta sosial. </span><span style="vertical-align: inherit;">Asumsi awal penelitian ini adalah bahwa masyarakat desa Anggaswangi memandang kegiatan keagamaan sebagai wujud kecintaan terhadap Tuhan, namun kegiatan seperti Majeliis Sholawat juga dapat dijadikan kegiatan untuk berdoa kepada Tuhan karena situasi di masa pandemi Covid-19. </span><span style="vertical-align: inherit;">Individu manusia dalam masyarakat merupakan aktor yang kreatif dan realitas sosial bukan merupakan alat yang statis dari paksaan fakta sosial. </span><span style="vertical-align: inherit;">Artiya, tindakan manusia tidak ditentukan oleh norma, kebiasaan, nilai, dan sebagainya yang tercakup di dalam konsep fakta sosial. </span><span style="vertical-align: inherit;">Asumsi awal penelitian ini adalah bahwa masyarakat desa Anggaswangi memandang kegiatan keagamaan sebagai wujud kecintaan terhadap Tuhan, namun kegiatan seperti Majeliis Sholawat juga dapat dijadikan kegiatan untuk berdoa kepada Tuhan karena situasi di masa pandemi Covid-19. </span><span style="vertical-align: inherit;">Individu manusia dalam masyarakat merupakan aktor yang kreatif dan realitas sosial bukan merupakan alat yang statis dari paksaan fakta sosial. </span><span style="vertical-align: inherit;">Artiya, tindakan manusia tidak ditentukan oleh norma, kebiasaan, nilai, dan sebagainya yang tercakup di dalam konsep fakta sosial. </span><span style="vertical-align: inherit;">Asumsi awal penelitian ini adalah bahwa masyarakat desa Anggaswangi memandang kegiatan keagamaan sebagai wujud kecintaan terhadap Tuhan, namun kegiatan seperti Majeliis Sholawat juga dapat dijadikan kegiatan untuk berdoa kepada Tuhan karena situasi di masa pandemi Covid-19.</span></span></p>

Informasi bibliografis

Versi dan riwayat publik

  1. Versi 1PERSPEKTIF MASYARAKAT TERHADAP KEGIATAN MAJELIS SHOLAWAT PADA MASA PANDEMI2022 · oai:ais:artikel:1600